Van Indië tot Indonesië Slotfestival, 11/01/2007
Nukila Amal: Essay
Nukila Amal (Ternate, Indonesië, 1971) heeft gestudeerd aan de Tourism College of Bandung en heeft een aantal jaar in de toeristenindustrie gewerkt. In 1997 is ze begonnen met schrijven, maar ze heeft haar werk pas ter publicatie gestuurd in 2000. Haar debuutroman Cala Ibi verscheen in 2003 en is lovend ontvangen. De roman kreeg een plaats op de shortlist van The Khatulistiwa
Literary Award 2002-2003.
Nukila kreeg voor het avondprogramma 'Art Deko(lonisatie) op 11 januari 2007 in Theater het Spui in Den Haag een schrijfopdracht en schreef het essay 'Dari Batavia sampai Jakarta': over haar vaders begrip van 'geschiedenis' en haar eigen visie op wat 'geschiedenis' is, is geweest, en mag zijn.
![]() |
| Nukila Amal in Van Batavia tot Jakarta in proza, poëzie en film in Art Deko(lonisatie) op donderdag 11 januari in Theater aan het Spui in Den Haag tijdens Winternachten 2007. © Winternachten 2007/Serge Ligtenberg |
Essay: Dari Batavia sampai Jakarta
“Tanah yang menyimpan akarmu, hingga muncul berdiri menatap semesta, menegakkan dirimu manusia […] Beginikah arti pulang, seperti menerobos menggali masuk ke bawah tanah dan melihat kedalaman, apa-apa yang tak kelihatan dari luar, namun memecahkanmu keluar, memberimu dunia luar. Tanah yang menyimpan ujung dan tepi dirimu di kedalaman, membentukmu, membesarkanmu, meninggikanmu, menujukanmu ke dekat langit.” (Cala Ibi 70-71)
Tentang Pulang
Berbicara sejarah adalah sebuah perjalanan pulang, kembali ke akar. Tak setiap hari saya menatap Indonesia dengan mata historis; melihatnya sebagai sebuah hasil dan proses: Indonesia sebagai hasil diktum pelbagai kehendak untuk kuasa, dalam serentang waktu panjang zaman, sebuah produk perseteruan dan kesepakatan. Yang kedua, Indonesia sebagai fluks; medan kecamuk bagi sebuah proses kompleks, menuju pada sesuatu yang entah apa dan bagaimana.
Berkah dan Dosa Para Ayah: Sebuah Warisan
Sebagai seorang sejarawan, ayah saya dapat menjabarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air sepanjang tahun 1930-1960: nama-nama, tempat, tanggal dan tahun, singkatan bahasa Belanda ?hanya berdasarkan ingatan. Ada pengetahuan, kenangan, keintiman, terhadap sejarah; sejarah bangsa Indonesia tempatnya di dalam sejarah dunia.
Di antara jabaran yang nyaris ensiklopedis ini, ada pemikiran kilas balik yang jauh sebelum rentang masa kolonialisme; dari Sunda Kelapa sampai Batavia sampai Jakarta. Ayah saya melihat episode kolonialisme ratusan tahun itu sebagai sebuah hasil, konsekuensi lanjutan dari episode sebelumnya dalam peradaban manusia. Semua masalah dunia Barat muncul dalam Abad Pertengahan, dari perolehan pengetahuan di masa itu: kota-kota perdagangan, ekonomi kapitalistis, konsep modern bangsa-negara, identitas nasional, bala tentara modern, teknologi kapal, kompas, bubuk mesiu. Semua berkah dan masalah ini kemudian ditularkan ke dunia timur lewat perdagangan, dan secara lebih agresif, yaitu lewat kolonisasi. Bukankah semua kita selalu diwarisi dan mewariskan sesuatu pada yang lain?
Saya menyadari betapa berbeda pendekatan kami terhadap subjek yang sama-sama menjadi minat kami ini. Ayah saya melihat sejarah sebagai sesuatu yang faktual, objektif dan pasti; sedang saya lebih melihatnya sebagai sesuatu yang sarat dengan ambiguitas, kontradiksi, dan subjektif.
“Satulelaki berjalan gagah sambil menceritakan kisah sendiri jadi sejarah, dalam seribu bahasa yang keras bergema, meneriakkan tanah dengan banyak nama-nama. Ia berlenggang menerjang pulau-pulau seribu kurang satu, dan banyak lagi yang jauh di luar itu, hendak menjadikan diri raja sepuluh ribu pulau. Jejak-jejak satulelaki tampak di mana-mana, oleh kakinya yang menginjak keras-keras tanah.”
(Cala Ibi 68-69)
Sejarah: Antara Fakta & Fiksi
Menatap sejarah, bagi saya adalah menatap pada ambiguitas dan kontradiksi: antara fakta dan fiksi, yang nyata dan tak nyata –sungguh sebuah hubungan yang problematis. Orde Baru telah memberi contoh benderang bahwa apa yang pernah dianggap sebagai fakta ternyata menjelma fiksi semata –sesuatu yang dikonstruksi, dipalsukan dan dimanipulasi untuk membentuk ‘realitas’, yang nyatanya merupakan hasil pengetahuan yang subjektif ketimbang objektif, sebuah konstruk. Sejarah adalah perihal ‘pengetahuan yang diresmikan’, sangat ditentukan oleh siapa yang berkuasa, cerita versi siapa. Tentu saja saya tak bersepakat dengan ayah saya tentang hal ini.
Sebagai pelaku yang telah menulis beberapa buku, ayah saya tak setuju bahwa apa-apa yang dituliskan di dalam sebuah teks sejarah mestinya sangat ditentukan atau dipengaruhi oleh bias, kepentingan, asumsi dan prasangka sang sejarawan dalam mengolah sumber-sumber referensinya ?meski tak selalu disadari ataupun disengaja. Sama halnya dengan tulisan atau studi seorang antropolog, sosiolog; bahkan sains sebagai ilmu pasti yang ketat-taat/rigorous pun dalam perkembangannya kian harus mengakui peran sang subjek ilmuwan dalam mempengaruhi observasi dan hasil akhir eksperimen. Ilmu pasti menjadi kian tak pasti; begitu halnya sejarah menjadi kian tidak ‘bersejarah’.
Dari zaman ke zaman, syiar semua konstruk sosial/kultural/politis ini pada gilirannya membentuk prasangka, bias, sikap, nilai, makna personal kita masing-masing dan mempengaruhi cara kita berinteraksi dan merespon situasi yang melibatkan ‘yang dulu’, ‘yang lain’, ‘yang asing’ atau ‘yang baru’.
“Begitu lama para lelaki menari perang. Cakalele yang berganti penari-penari, generasi demi generasi, abad demi abad. Dalam gerakan-gerakan yang sama, perhitungan angka-angka lama. Tarian amuk-setan dalam lingkaran setan tak berkesudahan: kesilaman, kekinian, masa depan.
Tarian panjang yang menjadi sejarah, dituliskan di kitab-kitab manusia dalam huruf-huruf besar untuk anak cucu mereka. Sejarah, rangkaian pengulangan usang, kesilaman yang menjadi masa depan, hari-hari yang selalu datang satu-satu itu. Masa depan, yang tak lagi menawarkan kebaruan dan kesegaran. Nanti yang tak lagi seru untuk dinanti – apalagi dengan penuh harapan, telah habis kejutan. Masa depan, semata pergantian tampakan kesilaman, berubah-ubah mengambil banyak rupa, untuk imaji-imaji yang tetap dan purba. Masa depan, reruntuhan yang dibangun untuk dihancurkan lagi dan dibangun lagi untuk dihancurkan lagi untuk dibangun lagi, lagi dan lagi. Dan di atasnya, manusia-manusia menari. Jika sedang tidak menari, mereka menjilat luka lalu menari lalu menjilat luka sembari menari lagi.”
(Cala Ibi, 65-66)
Sejarah yang Kian Tidak Bersejarah
Ada pengetahuan, kenangan, keintiman, terhadap sejarah yang berangsur-angsur hilang dalam rentang tiga generasi: generasi tua (ayah) dan generasi muda (anak). Pada generasi muda terjadi semacam proses transisi. Kebetulan saya sebagai penulis, masih merasa perlu untuk memiliki kesadaran historis: personal, spasial, temporal. Dapat dikatakan bahwa generasi muda masih punya sensibilitas historis, meski tidak jamak. Anak-anak muda masa kini cenderung tidak tahu dan tidak ingin tahu tentang masa penjajahan, atau pembentukan bangsa-negara, karena banyak hal yang lebih menyita perhatian atau minat di zaman modern ini. Masa kini dan masa depan selalu lebih menarik ketimbang masa lalu. Saya hanya melihat jejak Belanda dalam Bahasa Indonesia, museum, bangunan-bangunan tua, pada kerut dahi ayah saya dan buku-buku sejarah.
Salah satu sebab generasi muda tidak menggemari sejarah, adalah keringnya penyampaian sejarah sebagai mata pelajaran di sekolah ?sama nasibnya dengan mata pelajaran lain dalam buruknya sistem pendidikan di Indonesia. Sejarah diperlakukan sebagai hafalan, ketimbang semacam pengembangan kesadaran atau sensibilitas. Kami mesti menghafalkan apa, siapa, kapan, di mana, angka-angka tahun, yang tentu sebagian besar masuk ke dalam memori jangka pendek, yang segera akan dilupakan seketika ujian selesai. Ini berbeda dengan hasil belajar angkatan ayah saya yang masih mengingat apa yang dipelajari. (Di sekolah dulu, saya ingat menghampiri sejarah dengan semacam ironi, semisal frasa ‘Belanda membonceng sekutu’, pada era pasca kemerdekaan. Bagian ini paling menempel di dalam memori saya; bukan berasal dari pemahaman tentang besaran peristiwa atau semacamnya, namun lebih karena sebuah anekdot imajinatif-asosiatif. Frasa ini tentu saja metaforis, namun secara harfiah bermakna lucu; kami membayangkan Belanda yang datang membonceng sepeda. Imaji yang sangat mengena dan masuk akal dengan banyaknya foto-foto dokumenter zaman perjuangan yang kerap memperlihatkan sepeda.)
Satu aspirasi generasi tua adalah perlunya generasi muda lebih mengenal dan memahami sejarah. Ayah saya mengangankan semacam pembaruan minat kaum muda terhadap sejarah; belajar dari masa lalu untuk lebih memahami pelbagai persoalan bangsa Indonesia saat ini. Bukankah kita kadang mesti melihat kembali jalan-jalan yang telah terlalui, jalan-jalan dari mana, untuk tahu kita sedang ada di mana, dan akan ke mana?
M. Adnan Amal & Nukila Amal